Friday, 16 January 2015

Kitab Tanbihul Ghafilin - Bab Amal Tergantung Pada Niat



Abu-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Maisarah berkata: Allah Ta’ala Berfirman: aku tidak menerima perkataan Seorang Hakim, tetapi aku melihat tujuan dan niatnya, maka bila tujuan dan niatnya kepada-Ku, maka aku jadikan diamnya untuk berfikir dan bicaranya sebagai dzikir meskipun ia tidak berkata-kata.

Abu-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim Annakhaa’I berkata: sesungguhnya adakalanya seorang melepaskan kalimat yang memarahkan, tetapi niatnya baik, maka Allah menerimakan kepada orang-orang dengan rasa ma’af, sehingga orang-orang berkata: niatnya baik, tidak bermaksud jahat. Dan sebaliknya adakalanya seorang berkata baik, tetapi niatnya tidak baik, maka Allah menerimakan kepada para pendengarnya menurut niatnya, sehingga mereka berkata: tujuannya tidak baik, betul kalimatnya baik, tetapi tujuannya tidak baik

Aun bin Abdullah berkata: dahulu orang-orang salihin masing-masing menulis surat kepada kawannya tiga kalimat: yang artinya:

1    Siapa yang beramal untuk Akherat, maka Allah mencukupi segala urusan dunianya
2    Dan siapa yang memperbaiki niatnya, maka Allah akan memperbaiki lahirnya
3    Dan siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Alhasan ketika mengartikan firman Allah:

Qul kullun ya’malu ala syaakilatihi: Katakanlah: tiap orang beramal menurut niatnya, yakni sahnya amal tergantu pada niatnya.


Nabi s.a.w. bersabda: 

Niyyatul mu’mini khairun min amalihi (Niat seseorang mu’min lebih baik dari amal perbuatannya).

Sebab niat itu mendapat pahala tanpa amal, sedang amal tanpa niat tidak ada pahalanya. Dan juga ia dapat niat akan berbuat kebaikan selama hidup, dan tidak dapat berbuat kebaikan selama hidup. Juga karena niat itu perbuatan hati, sedang hati itu sumber ma’rifat dan semua yang timbul dari sumber itu lebih utama (afdhal) dari lain-lainnya.

Nabi s.a.w. bersabda: yang artinya:

Seorang hamba dihadapkan pada hari qiyamat membawa hasanat sebesar bukit, lalu ada seruan: siapa yang merasa pernah dianiaya oleh fulan boleh datang untuk dibayar, maka datanglah beberapa orang lalu mengambil bagiannya sehingga tiada tinggal satupun dari hasanat yang banyak itu, sehingga hamba itu menjadi bingung, lalu Tuhan berkata kepadanya: Untukmu ada simpanan padaku yang tidak saya perlihatkan kepada Malaikat atau seorang pun dari makhlukku, lalu ia bertanya: Apakah itu? Jawab Tuhan: yaitu niatmu yang kau selalu niat akan berbuat kebaikan, saya tulis untukmu berlipat ganda tujuh puluh lipat ganda.

Seorang Aabid Bani Isra’il ketika melihat anak bukit, lalu ia ingin, andalkan bukit itu menjadi tepung, maka akan memberi makan kepada Bani Isra’il yang sedang menderita kelaparan, maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi dimassa itu aku tetapkan bagimu pahala sekiranya bukit itu menjadi tepung dan kamu sedekahkan.

Juga ada riwayat: Akan dihadapkan pada hari qiyamat seorang hamba, lalu ia melihat dalam suratan amalnya ada hajji, umrah, jihad, zakat dan sedekah, maka ia bertanya dalam hatinya dari mana semua itu padahal saya tidak berbuat semua itu, mungkin ini bukan suratan amalku. Maka Allah berfirman: bacalah itu suratan amalmu, ketika kamu hidup dahulu sering berkata: andai aku mempunya harta niscaya aku jihad, dan semua itu Saya mengetahui bahwa niatmu itu sungguh-sungguh. Maka Aku beri kepadamu pahala semua itu.

Abul-Laits berkata: niat itu akan benar-benar jika terbukti ia tidak bakhil jika mempunyai sedikit, umpama ia melihat seorang hajji yang sedang kekurangan di tengah jalan, lalu ia berkata Andaikan aku mempunyai harta niscaya akan hajji, tetapi karena kini hanya mempunyai dua dirham, maka saya berikan pada orang sebagai bantuan pada orang yang akan berhajji ini, demikian pula jika ia melihat seorang berjihad dalam kesusahan, lalu ia berkata: Andaikan aku mempunyai harta tentu saya berjihad, tetapi karena kini belum mempunyai, hanya beberapa dirham ini maka saya bantukan kepada pejuang ini,  atau kepada orang yang berhajat, atau orang miskin ini. Adapun bila ia bakhil terhadap apa yang ada padanya, Sehingga Allah mengetahui bahwa sekiranya ia mempunyai lebih banyak dari itu masih tetap bakhil, maka orang yang sedemikian tidak mendapat pahala pada niatnya. Demikian pula sekiranya ia berkata: andaikan aku hafadh Alqur’an niscaya saya baca diwaktu siang malam, maka bila ia membaca apa yang dihafalkan, sehingga Allah mengetahui bahwa sekiranya ia hafal semua Alqur’an niscaya ia akan membacanya, maka Allah akan memberinya pahala orang yang hafal semua Alqur’an, meskipun ia tidak membacanya, sebab Allah telah mengetahui bahwa niatnya betul.

Sahl bin Sa’ad Assa’idi r.a. berkata: Nabi s.a.w. bersabda:

Niyyatul mu’min khairun min amalihi, wa amalul munafiqi khairun min niyyatihi, wa kul lun ya’malu ala niyyatihi (Niat seseorang mu’min lebih baik dari amalnya, dan amal seorang munafiq lebih dari niatnya, dan masing-masing beramal menurut niatnya).

Muhammad bin Ali r.a. berkata: Nabi s.a.w. bersabda:

Man ahabba rajulan fillahi li ‘adlin dhahara minhu, wahuwa fi ilmillahi min ahlinnar, aajarahu Allahu ala hubbihi iyyahu, kama lau ahabba rajulun min ahlil jannati, waman abghadha rajulan fillahi li jaurin dhahara minhu wahuwa fi ilmillahi min ahlil jannati aajarahullahu ala bugh dhihi iyyahu kama laukana yab ghadhu rajulan min ahlinnar. (Siapa yang suka pada seseorang karena Allah karena keadilan yang tampak padanya, padahal orang itu di dalam ilmu Allah dari ahli neraka, maka Allah akan suka kepadanya sebagaimana sekiranya ia cinta pada seorang ahli sorga, dan siapa yang membeci pada seorang karena Allah disebabkan karena kekejaman yang tampak padanya, padahal  di dalam ilmu Allah ahli sorga, maka Allah akan memberi pahala padanya atas kebencian itu sebagaimana sekiranya ia membenci seorang ahli neraka).

Allah telah menurunkan wahyu kepada Musa a.s.: yang artinya:

Hai musa, apakah engkau pernah beramal untuk-Ku? Jawab Musa: Tuhanku, saya telah sembahyang untuk-Mu, dan sedekah dan dzikir untuk-Mu dan puasa untuk-Mu. Firman Allah: sembahyang sebagai bukti bagimu, dan puasa sebai perisai untukmu, dan sedekah sebagai naungan bagimu, dan dzikir sebagai nur (penerangan) bagimu, maka amal apakah yang untuk-Ku. Nabi Musa bertanya: Tuhanku, tunjukan kepadaku amal yang untuk-Mu. Firman Allah: hai Musa, apakah engkau telah cinta pada wali atau membenci (memusuhi) musuh-Ku, maka dari itu Nabi Musa mengetahui bahwa amal yang utama ialah cinta karena Allah dan membenci Karena Allah

Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi s.a.w. bersabda: yang artinya:

Sesungguhnya Allah tidak melihat rupamu, dan tidak melihat hartamu dan tidak melihat keadaanmu, tetapi melihat amal dan hatimu.

A’isyah r.a. berkata: Nabi s.a.w. bersabda: yang artinya:

Siapa yang mencari keridho’an Allah dengan menjengkelkan orang, maka Allah akan ridha padanya, dan Allah meridhakan orang-orang padanya. Dan siapa yang mencari keridho’an orang-orang dengan memurkakan Allah, Maka Allah akan murka padanya dan akan memurkakan orang-orang itu padanya.

Al A’masy dari Abu Amr Asysyaibani dari Abu Mas’uud Al Anshari r.a. berkata: yang artinya:

Seorang datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: Ya Rasulullah, berikan kepadaku kendaraan untuk ikut jihad. Rasulullah s.a.w. bersabda padanya: Pergilah kepada fulan, maka ia akan memberi padamu, maka ia pergi, dan diberi satu onta, maka kembali ia memberitahu  kepada Nabi s.a.w. maka Nabi s.a.w. bersabda: man dalla ala khairin falahu mitslu  ajri faa ilihi. (Siapa yang menunjukan jalan kebaikan maka ia mendapat pahala sama dengan orang yang mengerjakannya). Atau: Addaalahu alal khairi kafaa’ilihi. (yang menunjukan jalan kebaikan itu sama dengan yang mengerjakannya).

Hudzaifah bin Alyamaan r.a. berkata: seorang peminta-minta datang maka ia minta, dan orang-orang pada diam, kemudian ada seorang memberi, lalu ditiru oleh lain-lain orang, maka Nabi s.a.w. bersabda: yang artinya:

Siapa beri contoh amal kebaikan, lalu ditiru (diikuti) orang, maka ia mendapat pahalanya, dan pahala orang-orang yang meniru padanya tanpa mengurangi pahala orang-orang itu sedikit pun. Dan siapa memberi contoh amal kejahatan, lalu ditiru orang, maka ia menanggung dosanya, dan dosa orang-orang yang meniru perbuatan itu, tanpa mengurangi dari dosa orang-orang yang meniru itu sedikit pun.

Tamin Addari r.a. berkata: Nabi s.a.w bersabda: yang artinya:

Lima macam siapa yang membawa itu pada hari qiyamat, tidak akan tertolak untuk masuk sorga; nasehat untuk Allah, dan untuk Rasulullah, dan untuk kitab Allah, dan bagi pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka (yakni mengajak orang untuk beriman dan taat kepada Allah, dan Rasulullah dan kitab Allah dan ini tugas kaum muslimin dan umumnya mereka). Dilain riwayat: Innaddina annashihatu. Qila: liman ya Rasulullah? Qaala: lillahi, walirasulihi, walikitabihi, wali jami’il muslimin. (Sesungguhnya tegaknya agama itu dengan nasehat, ditanya: untuk siapa ya Rasulullah? Sabda Nabi s.a.w.: karena  Allah dan Rasulullah, dan kitab Allah, dan semua kaum muslimin).

Abu-Laits berkata: Nasehat karena Allah yaitu: beriman pada Allah dan mengajak orang-orang supaya beriman, serta ingin semoga semua orang beriman dan percaya. Nasehat untuk Rasulullah, yaitu membenarkan semua ajarannya dan mengikuti sunnahnya dan mengajak orang-orang untuk mengikuti sunnaturrasul s.a.w. Adapun nasehat pada kitab Allah: Yaitu mempelajari dan mengamalkannya, dan mengajarkannya pada orang-orang supaya mereka dapat melaksanakan semua yang terkandung di dalamnya. Nasehat kepada pemimpin kaum muslimin mengikuti benar ajaran mereka dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar,dan jangan menentang pada mereka. Nasehat untuk semua orang Islam, yaitu suka bagi mereka apa yang suka untuk dirimu sendiri, dan membenci terhadap mereka apa yang membenci bagi diri sendiri, dan selalu bergaul dengan mereka dengan kasih sayang.

Abu-Laits berkata: berapa banyak orang yang tidur di tulis baginya pahala orang yang sembahyang malam. Dan beberapa banyak orang yang bangun ditulis sebagai orang yang tidur. Yaitu jika seorang biasa bangun malam berwudhu’ dan sembahyang hingga terbit fajar, tiba-tiba pada suatu malam ketiduran sehingga pagi, maka ia bangun dengan hati yang sedih menyesal dan mengucap: Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun, maka orang ini ditulis sebagai orang yang bangun malam karena niatnya. Adapun bila ia tidak biasa bangun sembahyang malam, tiba-tiba ia bangun dan menyangka sudah subuh maka ia segera wudhu’ dan masuk ke masjid, tiba-tiba nyata baginya belum subuh, lalu ia berkata dalam hatinya: Andaikan saya tahu masih belum subuh tidak akan bangun dari tempat tidurku, maka orang inidi tulis dari golongan orang-orang yang tidur meskipun ia bangun.

No comments:

Post a Comment