Abu-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari
Zaid bin Maisarah berkata: Allah Ta’ala Berfirman: aku tidak menerima perkataan
Seorang Hakim, tetapi aku melihat tujuan dan niatnya, maka bila tujuan dan
niatnya kepada-Ku, maka aku jadikan diamnya untuk berfikir dan bicaranya
sebagai dzikir meskipun ia tidak berkata-kata.
Abu-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibrahim
Annakhaa’I berkata: sesungguhnya adakalanya seorang melepaskan kalimat yang
memarahkan, tetapi niatnya baik, maka Allah menerimakan kepada orang-orang
dengan rasa ma’af, sehingga orang-orang berkata: niatnya baik, tidak bermaksud
jahat. Dan sebaliknya adakalanya seorang berkata baik, tetapi niatnya tidak
baik, maka Allah menerimakan kepada para pendengarnya menurut niatnya, sehingga
mereka berkata: tujuannya tidak baik, betul kalimatnya baik, tetapi tujuannya
tidak baik
Aun bin Abdullah berkata: dahulu orang-orang salihin
masing-masing menulis surat kepada kawannya tiga kalimat: yang artinya:
1 Siapa yang beramal untuk Akherat, maka Allah
mencukupi segala urusan dunianya
2 Dan siapa yang memperbaiki niatnya, maka Allah
akan memperbaiki lahirnya
3 Dan siapa yang memperbaiki hubungannya dengan
Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Alhasan ketika mengartikan firman Allah:
Qul kullun ya’malu ala syaakilatihi: Katakanlah: tiap orang
beramal menurut niatnya, yakni sahnya amal tergantu pada niatnya.